Kirimkan Berita
Asian Games
Dirgahayu

Butuh Dua Tahun Lagi, Sektor Properti Terbilang Sehat

Butuh Dua Tahun Lagi, Sektor Properti Terbilang Sehat

Jakarta- Upaya pemerintah untuk mendorong sektor properti bangkit dari keterpurukan, belum menampakkan hasil. Padahal, secara teori, upaya tersebut mestinya bisa membangkitkan gairah membangun bagi pengembang, dan membeli bagi konsumen.

Sebut saja deregulasi berupa Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) XI mengenai penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final menjadi 0,5 persen dan tarif Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) menjadi maksimal 1 persen.

Berikutnya PKE XIII tentang Perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Belum lagi nilai tukar Rupiah yang terus menunjukkan stabilitas berada pada kisaran Rp 13.300, dan suku bunga acuan Bank Indonesia juga rendah, 4,75 persen, serta tingkat inflasi 4,37 persen.

Namun, apa daya, semua faktor dan kondisi tersebut belum mampu mendongkrak sektor properti kembali kepada khittah-nya sebagai lokomotif ekonomi Nasional.

Setelah periode sebelumnya pertumbuhan di sektor properti sangat tinggi sekali, kini seolah mulai letih dan memprihatinkan. Selain belum bisa naik, bahkan sudah cenderung turun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai wajar, jika kini industri di sektor properti cenderung melemah, mengingat periode sebelumnya pertumbuhannya sangat tinggi sekali.

“Sektor properti di periode sebelum ini pertumbuhannya tinggi sekali, dan kalau sekarang ini ada terkoreksi itu adalah sesuatu yang normal,” ujarnya akhir pekan lalu.

Meski begitu lanjut Agus, confidence ekonomi secara umum di Indonesia sangatlah baik. Apalagi usai tiga lembaga rating dunia memberikan layak investasi ke Indonesia

“Tapi secara umum, confidence terhadap ekonomi indonesia baik. Apalagi tiga rating agency utama, menyatakan indonesia investment grade. Aliran dana yang masuk semakin besar,” jelasnya.

Kondisi ekonomi yang belum bisa diprediksi membuat komitmen pengembang dalam membangun properti yang telah dipasarkan harus dipandang sebagai dasar bagi pembeli properti, baik end user maupun investor.

Menurut Agus, meski pada Juli 2017 sempat terkoreksi untuk aliran dana yang masuk ke Indonesia, namun itu disebabkan karena para investor yang ingin mengunci profitnya.

“Kalau kemarin bulan Juli ada sedikit koreksi, itu lebih karena investor mau mengunci profit dan ada sedikit rebalancing,” pungkas Agus.

Untuk kondisi ekonomi, saat ini terbilang stagnan. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini yaitu sebesar 5,1% dan inflasi yang berada di angka 4,37%.

Director Head of Research and Consultants Savills Consultant Indonesia, Anton Sitorus mengatakan, dalam kondisi normal, target 5.1% sangatlah bagus. Namun, untuk pertumbuhan ekonomi, tak cukup untuk mengangkat sektor bisnis properti Indonesia.

“Saat ini ekonomi kita itu bagus juga enggak, jelek juga enggak. Dalam kondisi normal sih oke. Tapi, untuk membuat sektor bisnis (properti) meningkat, target pertumbuhan ekonomi 5,1 % itu belum cukup,” ujarnya saat media briefing, Rabu (26/7).

Belum lagi lanjut Anton, dengan suku bunga yang relatif rendah sekali. Apalagi ditambah dengan pergerakan sektor properti di bursa saham Indonesia yang masih fluktuatif, dikarenakan dana asing yang berkurang akibat di-take out.

“Inflasi 4%, rupiah masih relatif stabil, cuma mungkin stock market saja yang masih fluktuatif. Dana asing di bursa kita itu berkurang di-take out, sehingga indeks agak sedikit menurun,” jelasnya.

Anton memprediksi jika sektor properti Indonesia benar-benar bisa recovery pada 2019. Tentu dibarengi dengan pengembangan-pengembangan infrastruktur yang sedang digenjot oleh pemerintah.

“In terms of significant recovery post to 2019, kita akan mengharapkan pengembangan di sektor infrastruktur yang akan mendorong terjadinya transaksi di sektor infrastruktur,” pungkas Anton.

Baca Juga