Kirimkan Berita
Asian Games
Dirgahayu

Desain Ramah untuk Ruang Publik

Desain Ramah untuk Ruang Publik

Mauberita.com - Kemudahan aksesibilitas pedestrian membuat orang merasa nyaman mencapai satu tempat ke tempat lainnya. Di sisi lain, aksesbilitas dapat mengurangi kesenjangan sosial.

Adakalanya, aksesibilitas dimaknai sebatas ruang yang memberikan celah untuk pedestrian atau pejalan kaki. Padahal maknanya tidak sebatas itu, kenyamanan akses akan mendorong orang untuk menggunakan jalan sehingga dimungkinkan dapat mengurangi laju kendaraan pribadi.

“Perjalanan nyaman dan orang melupakan distance (jarak), itu yang harus kita buat,” ujar Cosmas Gozali, arsitek dan pemilik Atelier Cosmas Gozali, sebuah biro arsitektur dihadapan peserta talkshow Fasilitas Umum di Indonesia Terhadap Kebutuhan Penyandang Disabilitas dalam lingkup Arsitektur, sebagai bagian pameran desain bertema Satu Ruang di Galeri Salihara, Sabtu (8/7).

Banyaknya dinding yang membentang disepanjang pedestrian membuat orang enggan berjalan kaki. Karena dinding yang berdiri kokoh sepanjang penjalanan membuat jarak tempuh makin panjang.

Terlebih di Indonesia, suhu udara tropis yang kering dan lembab membuat orang merasa kepanasan dan berkeringat ketika berjalan kaki. Alhasil, mereka lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi maupun taksi berpendingin udara untuk menempuh jarak yang tergolong deket, seperti dari bundaran Hotel Indonesia sampai Bank Indonesia.

Di sisi lain, tombok-tembok tersebut memisahkan antara pejalan dengan penghuni gedung yang berada di sisi kanan maupun kirinya. Hal tersebut membuat, pejalan tidak memiliki hubungan dengan gedung yang ada di sebelah kanan maupun kirinya. “Sehingga, golongan marginal merasa tersisihkan,” ujar dia.

Akan bedahalnya, jika bangunan disebalah kanan kiri merupakan gedung-gedung yang terbuka untuk umum maupuan ruang publik. Mereka akan bebas keluar masuk tanpa merasa tersisihkan sebagai kelompok marginal. Di sisi lain, jarak tempuh ke tempat tujuan akan terasa lebih dekat.

Aksesibilitas merupakan bagian tidak terpisahkan dalam sebuah ruang publik. Akses tersebut akan membuat manusia mandiri. Terlepas, mereka merupakan kalangan umum, kalangan berkebutuhan khusus maupun manula.

Di ibukota fasilitas pedestrian untuk para penyandang disabilitas telah mengalami peningkatan. Seperti, arah jalan dengan tegel kuning bergerigi yang akan membantu para penyandang disabilitas  untuk mencapai tujuan.

Sayangnya, Cosmas melihat bahwa beberapa arah jalan tersebut teputus langsung di ujung trotoar tanpa ada bagian landai. Jalan tersebut dapat menyebabkan pengguna jalan celaka karena terputus secara tiba-tiba dalam posisi menjorok agak ke bawah.

Bagian lain yang dapat dilakukan untuk membantu para disabilitas adalah dengan menempelkan huruf braille di dinding yang akan diraba oleh orang yang tidak melihat. Sedangkan orang-orang tuli, bangunan dapat dibuat dari bahan transparan. Sehingga, mereka melihat aktifitas yang terjadi dilingkungan sekitarnya.

Bangunan degan warna-warna cerah tidak hanya memberikan kesan semangat namun bangunan tersebut dapat membantu para manula. Mengingat penglihatan yang makin berkurang, warna-warna cerah akan membantu manula untuk menemukan benda yang dibutuhkan maupun sebagai penunjuk arah. (mak)