Kirimkan Berita
Asian Games
Dirgahayu

Teknologi 5G, Percepat Akses IoT

Teknologi 5G, Percepat Akses IoT

Jakarta - Agar solusi-solusi canggih layanan Internet of Things (IoT) bisa cepat teralisasi, diperlukan adopsi jaringan teknologi 5G. Teknologi ini unggul lantaran menawarkan kecepatan ekstra tinggi dengan latensi (latency) rendah.

International Telecommunication Union (ITU) menyebutkan, jaringan 5G akan memiliki kecepatan 20 kali dari 4G LTE, yakni mencapai 20 Gbps dengan latensi rendah. Kecepatan ini disertai bandwidth besar dan dapat menghasilkan video beresolusi tinggi. Latensi rendah memungkinkan perintah atau pesan diterima seketika tanpa jeda.

Latensi merupakan ukuran seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk mengirim pesan dari ujung jaringan ke ujung yang lain. Dengan latensi rendah maka jaringan dapat mengirim pesan tanpa jeda untuk mengoperasikan sistem IoT, seperti operasi pasien dari jarak jauh (remote surgery), yang juga bautuh video beresolusi tinggi.

Kabar gembiranya, teknologi 5G Nokia siap untuk dipasarkan kepada operator telekomunikasi pada 2017 ini. Solusinya mencakup radio access network (RAN), termasuk solusi-solusi Air Scale Massive MIMO Adaptive Antennas, packet core dan mobile transport.

Dengan arsitektur Intel dan modem Intel 5G, solusi perusahaan asal Finlandia ini dapat dimanfaatkan oleh para operator. Apalagi Nokia memiliki solusi "End-to-end 5G First" untuk menjangkau segmen consumer.

President of Mobile Networks, Nokia, Samih Elhage, mengatakan Nokia menghadirkan sebuah solusi jaringan dan layanan 5G First  end-to-end yang sebenarnya. “Dengan bekerja sama dengan para operator, kami dapat membantu mereka menyesuaikan pemanfaatan-pemanfaatan guna memenuhi permintaan unik dari konsumen-konsumen mereka,” ujar Elhage, Rabu (1/3).

5G First RAN terdiri dari Nokia massive MIMO Adaptive Antennas untuk frekuensi 3,5 GHz dan 28 GHz, AirScale System Module, serta teknologi dan software AirScale cloud RAN. Nokia telah memperbarui platform AirScale dan AirFrame-nya menjadi 5G akan disesuaikan standar 3rd Generation Partnership Projects (3GPP).

5G First juga menggabungkan Cloud Packet Core Nokia yang multiakses dan Shared Data Layer Nokia. Kombinasi mampu menghasilkan fleksibilitas, skalabilitas maksimal dan kinerja yang dibutuhkan para operator untuk menyajikan layanan-layanan 5G dengan cepat dan hemat.

Sementara, kika Nokia siap terjun ke pasar pada 2017, ZTE ampaknya bakal lebih lambat. Perusahaan teknologi asal Tiongkok ini baru akan ditawarkan ke operator pada kuartal ketiga 2018, dan siap diterapkan secara komesial pada kuartal pertama 2019.

Pada ajang Mobile World Congress (MWC) 2017 di Barcelona, ZTE juga memperkenalkan seri lengkap seperti solusi mmWave dan sub-6GHz base transceiver stations (BTS). Solusi 5G terbaru ini mendukung antarmuka 5G New Radio (NR) lewat udara dari 3GPP dan pita frekuensi 5G 3,5 GHz dan 28 GHz.

Teknologi ini digunakan dalam industri.

BTS 5G terbaru milik ZTE menggunakan Massive Multiple Input, Multiple Output (MIMO), Benam Tracking, Beam Forming, dan teknologi penting lainnya yang dimiliki standar 5G, yang telah sesuai dengan ketentuan untuk penyebaran tahap pra-komersial.

“Solusi Pre5G milik ZTE memungkinkan operator untuk menyamai performa jaringan 5G pada infrastruktur 4G LTE yang tersedia dan memberikan performa lebih dalam data throughput dan mengurangi latency. Solusi Pre5G milik ZTE didesain khusus agar mudah di-upgrade ke 5G di masa depan, dan telah diterapkan pada lebih dari 40 jaringan di 30 negara di seluruh dunia,” demikian siaran tertulis ZTE yang diterima Rabu (1/3).

 Pada MWC 2017, ZTE menunjukkan smartphone Gigabit pertama di dunia yang mendukung skala transmisi data mencapai 1 Gbps, yang memberikan pengalaman termutakhir bagi para penggunanya. ZTE menyatakan telah berkerjasama dengan Deutsche Telekom, Telefonica, SoftBank, KT Group, China Mobile, China Telecom, dan China Unicom dalam implementasi teknologi 5G.

Dukungan Ekosistem

Ekosistem 5G sepertinya semakin lengkap. Bukan hanya pada jaringan, penyedia chipset semacam Qualcomm juga telah menciptakan prototipe chipset yang bisa terhubung dengan radio 5G NR dengan standar 3GPP, dan ini diprediksi bakal menjadi standar 5G global.

Koneksi dengan sistem prototipe sub-6 GHz 5G NR mampu beroperasi di spektrum mid-band  3.3 GHz hingga 5.0 GHz. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi 5G NR dapat digunakan untuk mencapai data rate dengan satua Gbps secara efisien dengan tingkat latensi yang lebih rendah dibanding jaringan 4G LTE.

“Di AS, Qualcomm Technologies bersama dengan Ericsson dan Vodafone melakukan tes interoperabilitas 5G, dan menyelenggarakan uji coba lapangan over-the-air berdasarkan spesifikasi 5G NR yang tengah dikembangkan oleh 3GPP. Sementara itu, Qualcomm akan bekerjasama dengan Ericsson dan Telstra untuk melakukan tes yang sama di Australia,” demikian pernyataan resmi yang diterima Senin (6/3).  

Untuk wilayah Asia, Qualcomm Technologies akan berkolaborasi dengan Ericsson dan NTT Docomo di Jepang serta ZTE dan China Mobile di Tiongkok untuk melaksanakan tes serupa. Uji coba di Jepang akan beroperasi di spektrum mid-band 4,5 Ghz dan spektrum millimeter wave (mmWave) 28 Ghz.

Sementara spektrum mid-band 3,5 Ghz akan digunakan untuk pengoperasian uji coba di Tiongkok. Pengujian ini bertujuan untuk mendorong komersialisasi dan validasi 5G NR sehingga memungkinkan peluncuran jaringan, infrastruktur, dan perangkat 5G komersial yang sesuai dengan standar 3GPP Rel-15. (adi)

Baca Juga